November 02, 2010

Macet: Hasil Observasi Tadi Siang

Seandainya pengguna mobil yang mengendarai mobilnya sendirian mau mengalah dan sedikit mau berkorban, misal dengan memakai angkot atau sepeda, insya Alloh kemacetan di kota-kota besar akan sedikit terkurangi. Penjelasannya seperti ini, jika satu mobil dengan luas 6 m2, dan ada 6 orang yang bepergian dengan mobil masing-masing, maka kapasitas jalan yang digunakan sebanyak 36 m2. Seandainya 6 orang ini mau mengorbankan gengsinya, dan mau menggunakan angkot, maka kapasitas jalan yang digunakan berkurang menjadi hanya 6 m2. Lihatlah perbedaan yang sangat signifikan ini. Seandainya di Bandung ini dalam seharinya terdapat 1000 orang yang menggunakan mobil seorang diri, maka kapasitas jalan yang digunakan adalah 6000 m2. Jika tiap angkot dapat mengangkut 10 orang, maka yang dibutuhkan hanya sebanyak 100 angkot, dan total kapasitas jalan yang digunakan akan berkurang secara signifikan menjadi hanya 600 m2. Dan tentu akan lebih kecil lagi jika semua orang ini menggunakan sepeda. Dari perhitungan ini, saya yakin sepertinya penyebab terbesar kemacetan di kota besar adalah orang-orang ini, orang-orang yang karena gengsi atau alasan apapun berkendara dengan mobil seorang diri dengan seenaknya. Oleh karena itu, saya gak suka sama orang yang naik mobil sendirian. Buang-buang kapasitas jalan.

October 29, 2010

Mandulnya Riset Mahasiswa di Bidang Perminyakan di TM-ITB

{Tulisan ini merupakan opini saya pribadi berdasarkan apa yang saya lihat. Mungkin ada hal yang benar, mungkin pula ada yang tidak sesuai kenyataan. Jika ada yang kurang sesuai, tulisan ini terbuka terhadap koreksi}

Majunya riset di suatu negara merupakan salah satu parameter keunggulan negara tersebut, terutama di bidang pengetahuan. Riset juga bisa dijadikan parameter keunggulan SDM dan tingkat pendidikan. Di Indonesia, lebih khusus lagi di ITB, atau lebih tepatnya di Teknik Perminyakan, riset belum dilaksanakan dengan optimal. Memang, selama ini banyak dilakukan proyek-proyek yang bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan minyak.Namun, proyek tentu saja tidak sama dengan riset. Dalam proyek, metode atau teknologi yang digunakan biasanya yang sudah ada, sehingga minim inovasi. Lalu bagaimana dengan TA yang dilakukan mahasiswa?? Meskipun ada TA yang bersifat riset, jumlahnya tidaklah banyak, ataupun riset yang dilakukan dalam TA kurang intensif, sehingga TA-nya pun kurang inovatif.
Riset dapat didefinisikan sebagai "the search for knowledge or as any systematic investigation, with an open mind, to establish novel facts, usually using a scientific method."(Wikipedia). Kata kuncinya adalah: systematic, novel, scientific method. Jadi riset harus dilakukan secara sistematik, menghasilkan hal baru (inovasi), dan berdasarkan metode saintifik.Ketika riset dilakukan dengan optimal, maka akan diperoleh inovasi-inovasi yang orang lain belum memilikinya. Oleh karena itu, riset dapat menuntun kepada suatu kemandirian, terutama di bidang teknologi. Mungkin hal inilah yang membuat Indonesia masih tergantung kepada bangsa lain di bidang teknologi, yaitu karena kurang optimalnya riset di negeri ini, dalam kasus ini di bidang Teknik Perminyakan di Indonesia.
Terdapat berbagai penyebab mengapa riset di TM kurang optimal:
1. Mahasiswa kurang diberi dorongan untuk tertarik kepada riset. Mungkin karena riset membutuhkan ketekunan dan waktu yang lama sehingga sedikit mahasiswa yang tertarik untuk melakukannya. Selain itu, seseorang yang ingin melakukan riset harus mau berkutat dengan buku referensi, jurnal, makalah, dan referensi-referensi lain yang berkaitan dengan hal yang akan diteliti. Kebanyakan mahasiswa kurang menyenangi hal ini. Mereka lebih menyukai permasalahan-permasalahan praktis, yang mudah dikerjakan.
2. Peralatan pendukung riset tidak memenuhi syarat. Sebagai mahasiswa TM-ITB, kita semua tahu lah kondisi lab AFR, lab Petro dan Lab lainnya. Hal ini tentu saja akan menghambat suatu kegiatan penelitian. Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap semua ini??Tentu saja hal ini berbeda jauh dengan yang ada di KFUPM (http://www.kfupm.edu.sa/pet/pe_laboratories.htm).
Mungkin baru dua hal itu yang bisa saya identifikasi yang menjadi penyebab kurang gregetnya kegiatan riset di TM-ITB. Semoga segera ditemukan solusinya oleh pihak-pihak berwenang. 

September 18, 2010

Surat Khalid Ibnul Walid kepada Gubernur Kisra di Madain

Siapa yang tidak bergetar kaki-kakinya ketika membaca surat dari Sang Pedang Alloh ini...
"Dari Khalid kepada para petinggi negeri Persia. Keselamatanlah bagi orang yang mau mengikuti petunjuk.

Amma ba'du
Segala puji bagi Alloh yang telah menghancurkan kalian, mencabut kekuasaan kalian dan menghinakan tipu daya kalian. Sesungguhnya yang mengerjakan sholat seperti sholat kami, menghadap kiblat kami dan memakan sembelihan kami, maka dia telah dianggap sebagai seorang muslim, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti kami.
Jika sampai kepada kalian suratku ini maka segera kirimkan kepadaku upeti, kalian akan menjadi ahlu dzimmah di bawah perlindungan kami. Jika tidak, maka demi Alloh yang tiada Ilaah yang Haq disembah selain diriNya, aku pasti akan mengirim kepada kalian suatu kaum yang lebih mencintai kematian daripada kecintaan kalian kepada kehidupan."

July 03, 2010

Beware of Gas Explosion!!!!!

Akhir-akhir ini, kasus ledakan gas semakin menjadi-jadi. Hal ini tentu saja membuat kita para pengguna tabung gas, terutama yang berukuran 3 kg menjadi was-was, sebab pada kasus ledakan gas yang selama ini terjadi, yang menjadi taruhan bukan hanya harta, tetapi juga nyawa. Untuk itu, kita perlu memperhatikan bagaimana kita menggunakan tabung gas tersebut, agar kejadian ledakan gas ini tidak menimpa kepada kita.

July 02, 2010

The Power of The Poors

Semalam saya menyaksikan sebuah film dokumenter yang ditayangkan di TvOne. Film ini menceritakan tentang perjuangan rakyat Bangladesh untuk keluar dari jerat kemiskinan yang telah membelenggu mereka sejak puluhan tahun yang lalu. Seperti diketahui bersama, Bangladesh merupakan salah satu dari negara termiskin di dunia. Namun, akhir-akhir ini, perekonomian di negara ini mulai menggeliat dengan digulirkannya program kredit mikro bagi rakyat-rakyat miskin baik di kota maupun di pedesaan. Program inipun yang kemudian membawa tokohnya, yaitu Muhammad Yunus, untuk menerima hadiah Nobel di bidang perdamaian.