Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

January 07, 2011

Taubat Lagi, Maksiat Lagi - Tanya Jawab bersama Ustadz Muhammad As-Sewed

Tanya: 
Bagaimana dengan taubat yang dilakukan berulang-ulang dengan kemaksiatan yang sama, apakah taubatnya bisa diterima?

Jawab: 
Dengan taubatan nasuha akan diterima. Jadi ada seorang mubtadi' (ahli bid'ah), seorang yang berpemikiran mu'tazilah, pernah saya dengar sendiri dia menyampaikan sebuah ayat yang berisi "tsumma amana tsumma kafaro tsumma amana tsumma kafaro", kemudian beriman kemudian kafir lagi, kemudian beriman kemudian kafir lagi, kemudian distempel oleh Alloh dalam keadaan kafir dan tidak akan bisa kembali lagi, ditafsirkan oleh dia (si mubtadi'), "makanya jangan taubat terus maksiat lagi, taubat terus maksiat lagi, nanti tidak akan diterima taubatnya". Ini adalah penafsiran yang dusta dan kadzab atas nama Alloh, padahal (sebuah) hadits justru (menyatakan) sebaliknya. Dalam shohih muslim ada seseorang yang berbuat dosa kemudian taubat kepada Alloh, maka Alloh mengatakan,"hambaku tahu bahwa dia mempunyai Robb yang mengampuni dosa,maka Aku ampuni dia", kemudian berbuat dosa lagi, taubat lagi, Alloh mengatakan,"hambaku tahu bahwa dia mempunyai Robb yang mengampuni dosa, maka Aku ampuni dia", sampai yang ketiga kalinya,  (tetap Alloh mengatakan) "hambaku tahu bahwa dia mempunyai Robb yang mengampuni dosa, maka silakan berbuat dosa karena Aku ampuni dia". Hati-hati, jangan (hadits ini) dijadikan untuk meremehkan dosa. Ini dibahas juga oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab yang tadi juga, kitab Al Jawaabul Kaafi, bahwa ini menunjukkan kalau taubat itu taubatan nasuha, taubat yang ikhlash, yang betul-betul taubat, maka mungkin akan diterima, tapi tetap di tangan Alloh kehendaknya, artinya apakah diterima atau tidak, itu (kehendak) Alloh Subhannahuwata'ala, tapi kemungkinan (untuk diterima) tetap ada. Tetap kemungkinan taubat ada, tidak pernah pintu taubat tertutup kecuali yughorghir (ketika nyawa sudah di tenggorokan), tetap pintu taubat terbuka, man lam yughorghir. Jadi syarat taubat bukan berhenti (dari maksiat), kemudian mengucapkan istighfar, kemudian menyesal, dan tidak mengulanginya selama-lamanya. Bukan itu syarat-syarat taubat. Yang awal betul, dua betul, tiga betul, yang terakhir salah. Yang ada adalah 'azzam untuk tidak berbuat lagi. Paham ya? Beda dengan yang tadi (yang awal), syaratnya yang keempat tidak berbuat lagi. Itu bukan syarat, (kalau)  tidak berbuat lagi. Mestinya syaratnya, berazzam untuk tidak berbuat lagi, bertekad untuk tidak berbuat lagi. Tapi kalau terjerumus lagi, ya taubat lagi. Yang penting tekad itu kamu mantapkan dalam hati untuk tidak berbuat lagi. Dan Alloh tahu apakah kamu serius atau main-main. Alloh Mahatahu, apakah kamu ucapkan saja, nanti saya akan berbuat lagi, atau memang kamu niat berhenti. Tapi tidak mustahil kamu sudah niat yang tekad, yang ikhlash, sudah kamu betul-betul murni tekadnya, tapi kalah lagi, kejeblos lagi, sampai kamu menangis dan kemudian bertaubat. Besok sungguh-sungguh lagi, insyaAlloh Alloh ampuni, walaupun tiga-empat kali terjerumus. Tapi yang penting kita bertaubat dengan tadi, syaratnya adalah selain kamu menghentikan perbuatan itu, ketika itu kamu berhenti, dan kemudian setelah itu bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, dengan ikhlash bertekad dalam hati bahwa saya tidak berbuat lagi. Ini syaratnya, jadi syaratnya apa? Tekad untuk tidak berbuat lagi. Kalau sampai terjerumus lagi, ya minta ampun lagi pada Alloh Subhanahuwata'ala, taubat lagi terus begitu. Man Lam yughorghir, sebelum nyawa di kerongkongan, masih tetap terbuka, dan sebelum matahari terbit dari barat.
Disadur dari tanya jawab bersama Ustadz Muhammad Umar AsSewed, dengan beberapa editan. Semoga bermanfaat, insyaAlloh..
Jika mau file audionya, silakan putar file audio di bawah ini..



January 04, 2011

Hak Sesama Muslim Terhadap Muslim yang Lain

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu'anhu, beliau berkata, Rosululloh Sholallohu'alaihi wasallam bersabda: "hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam". Ada yang berkata,"apa saja itu ya Rosululloh?", bersabda Rosululloh Sholallohu'alaihi wasallam,"ketika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya,  ketika dia mengundangmu maka jawablah/penuhilah, ketika dia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah dia, ketika dia bersin dan dia memuji Alloh, maka doakanlah kebaikan kepadanya (tasymit), ketika dia sakit maka jenguklah dia, dan ketika dia meninggal maka antarkanlah jenazahnya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim Rohimahullohu.
Dalam hadits yang mulia ini diterangkan adanya enam hak seorang muslim yang harus ditunaikan oleh muslim yang lainnya. Penyebutan enam hak di dalam hadits ini tidaklah membatasi bahwa hak seorang muslim terhadap muslim yang lain hanya enam. Namun, di dalam hadits ini hanyalah pemberian contoh, bahwa ada enam hak yang harus ditunaikan seorang muslim terhadap muslim yang lain. Dan penyebutan muslim di sini juga tidak terbatas untuk muslim lelaki, tetapi juga berlaku untuk muslim wanita/muslimah.
Enam hak ini termasuk adab-adab syar'i yang diatur dalam Islam. Hal ini menunjukkan kesempurnaan ajaran Islam, hingga ketika seseorang bersin pun diatur bagaimana adab yang baik yang harus dilakukan. 

1. Ketika bertemu, maka ucapkanlah salam kepadanya.
Yaitu mengucapkan "Assalamu'alaikum", dan jika ingin, maka boleh ditambah menjadi "Assalaamu'alaikum Warohmatulloh" dan baginya 20 kebaikan. Boleh pula ditambah menjadi "Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuhu" dan baginya 30 kebaikan. Hukum memulai mengucapkan salam adalah sunnah muakkad, sedangkan menjawab salam adalah wajib, dengan dalil Surat An Nisa:86. Dalam menjawab salam, kita harus menyamai salam yang diucapkan atau boleh menambahnya. 
Ucapan salam merupakan doa kepada muslim yang lain agar mereka diberikan keselamatan oleh Alloh AsSalam.

2. Ketika dia mengundangmu maka jawablah/penuhilah
Dalam hadits ini, yang dimaksud dengan mengundang adalah bersifat umum, misal mengundang makan, berkunjung, dll. Hukum mendatangi undangan ini adalah mustahab/sunnah. Sedangkan mendatangi walimatul 'ursy dari seorang muslim, hukum asalnya adalah wajib, selama dalam acara walimah tersebut tidak ada hal-hal yang bersifat harom, seperti ikhtilath, musik, perempuan yang bertabarruj, dsb. Kemudian, jika kita diundang pada acara walimah, tetapi kita tidak bisa datang karena suatu kendala, misal jarak yang terlalu jauh sehingga kita tidak mampu mendatangi ataupun halangan-halangan lain, maka tidak mengapa jika kita tidak mendatangi.

3. Ketika saudaramu meminta nasihat, maka berikanlah nasihat
Berdasarkan surat Al Ashr ayat ke-3, وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر "dan saling menasihati dengan kebaikan dan saling menasihati dengan kesabaran". Dan nasihat ini juga harus dalam kebaikan (Al Birr) dan ketaqwaan.

4. Ketika dia bersin dan dia memuji Alloh, maka doakanlah kebaikan baginya. 
Kenapa jika kita bersin kita harus memuji Alloh? Karena bersin merupakan nikmat dari Alloh. Dengan bersin, maka hilanglah beban dari dalam tubuh kita, dan tubuh kita akan terasa lebih ringan. Dan kita mendoakan saudara kita yang bersin dengan syarat dia mengucapkan "Alhamdulillah" setelah bersin. Doa yang kita ucapkan disebut dengan tasymit, yaitu ucapan "Yarhamukalloh". Dan jika yang bersin mendengar tasymit ini, maka dia hendaknya mengucapkan "Yahdikumulloh washliihu baalakum" (semoga Alloh memberimu hidayah dan memperbaiki keadaanmu). Doa tasymit diucapkan untuk bersin pertama, kedua, dan ketiga. Jika bersin terjadi lebih dari 3 kali, maka doakanlah kesembuhan baginya, karena dia terkena sakit flu.

5. Ketika saudaramu sakit, maka jenguklah dia.
Ketika kita menjenguk saudara kita yang sedang sakit, maka ucapkanlah hal-hal yang bisa menghibur si sakit. Misal dengan ucapan, "bagaimana keadaanmu, sudah baikan?", "kamu kelihatan lebih baik sekarang" dsb. 
Namun, jika pada si sakit telah ada tanda-tanda yang akan mendekati kematian, maka tuntunlah dia untuk selalu dzikir kepada Alloh dengan mengucapkan syahadat, dan kita harapkan dia akan meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.
Diperbolehkan menjenguk orang kafir yang sakit dengan syarat dapat diharapkan keislamannya jika kita mengunjungi dan mendakwahinya. Hal ini berdasarkan hadits yang mengisahkan Rosululloh yang menjenguk Abu Tholib, ketika dia sedang menghadapi kematian, maka Rosululloh memintanya untuk mengatakan Laa ilaha illalloh, tetapi dia menolak. Dan diutamakan orang kafir yang sedang dalam sakaratul maut, karena dalam kondisi ini, hatinya akan lebih lunak, insyaAlloh.

6. Jika saudara kita meninggal, maka antarkan jenazahnya..
Tentang hal ini insyaAlloh akan dijelaskan pada pertemuan selanjutnya.
Wallohuta'ala a'lamu bish shawaab..

Tambahan:
1. Jika salam disampaikan kepada sekelompok orang, maka hukum menjawab salam ini adalah fardu kifayah, artinya cukup satu orang dari kumpulan orang tersebut yang menjawabnya.
2. Jika ada kafir yang mengucapkan salam kepada kita, maka kita cukup jawab "wa'alaikum".

Diringkas dari ta'lim pada hari Ahad, 27 Muharrom 1432 H di Masjid Kampus ITENAS, Bandung..


December 19, 2010

Tuntunan Ulama' Salaf dalam menyikapi hari raya non muslim


Penulis: Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Iftaa. Fatwa n
Fatwa-Fatwa, 24 Desember 2003, 01:44:29

Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin

Pertanyaan :
Apakah boleh memberikan ucapan selamat hari raya atau yang lainnya kepada orang orang Masihiyun (penganut ajaran Isa al Masih)?

Jawaban :
Yang benar adalah jika kita mengatakan : Orang-orang nasrani, karena kalimat masihiyun berarti menisbatkan syariat (yang di bawah Nabi Isa) kepada agama mereka, artinya mereka menisbatkan diri mereka kepada Al-Masih Isa bin Maryam.

Padahal telah diketahui bahwa Isa bin Maryam Alaihissalam telah membawa kabar gembira untuk Bani Israil dengan(kedatangan) Muhammad.

Allah Subhanahu wa Taala berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: `Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)`. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata" (Ash-Shaff: 6).

Maka jika mereka mengkafiri/mengingkari Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam maka berarti mereka telah mengkafiri Isa, kerena mereka telah menolak kabar gembira yang beliau sampaikan kepada mereka. Dan oleh karena itu kita mensifati mereka dengan apa yang disifatkan Allah atas mereka dalam Al-Qur`an dan dengan apa yang disifatkan oleh Rasulullah Shallallahu wa `alaihi wa Sallam dalam As-Sunnah, dan yang disifatkan/digambarkan oleh para ulama muslimin dengan sifat ini yaitu bahwa mereka adalah nashrani sehingga kitapun mengatakan: sesungguhnya orang-orang nashrani jika mengkafiri Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam maka sebenarnya mereka telah mengkafiri Isa bin Maryam.

Akan tetapi mereka mengatakan: Sesungguhnya Isa bin Maryam telah memberi kabar gembira kepada kami dengan seorang rasul yang akan datang sesudahnya yang namanya Ahmad, sementara yang datang namanya adalah Muhammad. Maka kami menanti (rasul yang bernama) Ahmad, sedangkan Muhammad adalah bukanlah yang dikabargembirakan oleh Isa. Maka apakah jawaban atas penyimpangan ini?

Jawabannya adalah kita mengatakan bahwa Allah telah berfirman: Maka ketika ia (Muhammad) datang kepada mereka dengan penjelasan-penjelasan،. Ayat ini menunjukkan bahwa rasul tersebut telah datang; dan apakah telah datang kepada mereka seorang rasul selain Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam setelah Isa? Tentu saja tidak, tidak seorang rasulpun yang datang sesudah Isa selain Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam. Dan berdasarkan ini maka wajiblah atas mereka untuk beriman kepada Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam dan juga kepada Isa `Alaihissalam.

Rasul telah beriman kepada Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya (mereka mengakatan): `Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya.،¦ (Al-Baqarah:285)

Oleh karena itu Nabi Shallallahu wa `alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah(Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3435 dalam kitab Ahaditsul Anbiya` bab Qauluhu Ta`ala: Ya Ahal Kitabi La Taghlul Fi Dinikum, dan oleh Muslim no. 28 dalam kitab Al-Iman bab Ad-Dalil `Alaa Inna Man Maata `Alat Tauhiid Dakhalal Jannah Qath`an dari hadits `Ubadah bin Ash-Shamit Radhiallahu Anhu).

Maka tidak sempurna iman kita kecuali dengan beriman kepada Isa Alaihissalam dan bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah, sehingga kita tidak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang nashrani; bahwa ia adalah putra Allah, dan tidak (pula mengatakan) bahwa ia adalah tuhan. Dan kita tidak pula mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh orang yahudi: bahwa beliau adalah pendusta dan bukan seorang Rasul dari Allah, akan tetapi kita mengatkan bahwa Isa di utus kepada kaumnya dan bahwa syariat Isa dan nabi-nabi yang lainnya telah dihapus oleh syariat Nabi Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam.

Adapun memberi ucapan selamat hari raya kepada orang-orang nashrani atau yahudi maka ia adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama sebagaimana disebutkan Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab Ahkam Ahli Adz-Dzimmah, dan silahkan anda membaca teks tulisan beliau: "Dan adapun memberikan ucapan selamat untuk syiar-syiar kekufuran yang bersifat khusus maka ia adalah haram secara ijma`, seperti mengucapkan selama untuk hari raya dan puasa mereka dengan mengatakan : "hari raya yang diberkahi untuk anda،¦ Maka yang seperti ini kalaupun orang yang mengucapkan selamat dari kekufuran maka perbuatan itu termasuk yang diharamkan. Dan ia sama dengan memberikan selamat untuk ujudnya kepada salib. Bahkan itu lebih besar dosanya dan lebih dimurkai oleh Allah daripada memberikan selamat atas perbuatannya meminum khamar, membunuh, melakukan zina dan yang semacamnya. Dan banyak orang yang tidak memiliki penghormatan terhadap Ad-dien terjatuh dalam hal itu dan ia tidak mengetahui apa yang telah ia lakukan". Selesai tulisan beliau.
(Dinukil dari Ash-Shahwah Al-Islamiyah, Dhawabith wa Taujihat, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

Pertanyaan :
Apakah boleh berpartisipasi dengan kalangan non muslim dalam Hari-hari Raya mereka (Natal, Tahun Baru, Paskah, Imlek, dll, red), seperti hari ulang tahun misalnya?

Jawaban :
Alhamdulillah. Seorang muslim tidak boleh berpartisipasi dalam hari-hari perayaan mereka dan turut menunjukkan kegembiraan dan keceriaan bersama mereka dalam memperingatinya, atau ikut libur bersama mereka, baik itu peringatan yang bersifat keagamaan atau keduniawiaan. Karena itu menyerupai musuh-musuh Allah yang memang diharamkan, selain juga berarti menolong mereka dalam kebatilan. Diriwayatkan dengan shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa yang menyerupai satu kaum berarti termasuk golongan mereka."

Sementara Allah juga berfirman: "Bertolong-tolonganlah dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan; bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Keras siksanya.." (QS.Al-Maa-idah : 2)

Maka kami nasihat agar Anda menelaah kibat Iqtidhaa-ush Shiratil Mustaqiem karya Ibnu Taimiyyah -Rahimahullah-- sebuah buku yang amat bermutu sekali dalam persoalan tersebut. Wabillahit Taufiq. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

(Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Iftaa. Fatwa nomor 2540)

Pertanyaan :
Saya menyaksikan banyak kaum muslimin yang turut berpartisipasi dalam merayakan Hari Natal dan berbagai perayaan lain. Apakah ada dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah yang bisa saya tunjukkan kepada mereka bahwa kegiatan tersebut tidaklah disyariatkan?


Jawaban :
Ikut serta dalam Hari Raya orang kafir bersama mereka tidak boleh, berdasarkan hal-hal berikut:
Pertama: itu berarti menyerupai mereka. Nabi bersabda: "Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan dikatakan oleh Al-Albani -Rahimahullah-- : "Hasan shahih." (Shahih Abu Dawud II : 761)

Ini merupakan ancaman keras. Abdullah bin Amru bin Ash Radhiallahu 'anhuma pernah menyatakan: "Barangsiapa yang tinggal di negeri kaum musyrikin dan mengkuti acara Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu meniru mereka hingga mati, ia akan merugi di Hari Kiamat nanti."

Kedua: Ikut serta berarti juga menyukai dan mencintai mereka

Allah berfirman: "Janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai wali kalian.."

Demikian juga Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman; janganlah kalian menjadikan musuh-musuh-Ku dan musuh-musuh kalian sebagai wali yang kalian berikan kepada mereka kecintaan padahal mereka telah kafir terhadap kebenaran yang datang kepada mereka.."

Yang ketiga: Hari Raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan dalam hadits: "Setiap kaum memiliki Hari Raya, ini adalah Hari Raya kita.." Hari Raya mereka mengekspresikan akidah mereka yang rusak, penuh syirik dan kekafiran.

Keempat: "Dan mereka-mereka yang tidak menghadiri kedustaan (kemaksiatan).." ditafsirkan oleh para ulama bahwa yang dimaksud dengan kedustaan dalam ayat itu adalah Hari-hari Raya kaum musyrikin. Sehingga tidak boleh menghadiahkan kepada mereka kartu ucapan selamat, atau menjualnya kepada mereka, demikian juga tidak boleh menjual segala keperluan Hari Raya mereka, baik itu lilin, pohon natal, makanan-makanan; kalkun, manisan atau kue yang berbentuk stik atau tongkat dan lain-lain.

Kalau yang dimaksud dengan peringatan di situ adalah peringatan Hari Raya orang-orang kafir dan musyrikin tersebut, jelas tidak boleh kita berpartisipasi dalam Hari Raya yang batil tersebut. Karena itu mengandung kerja sama dan menolong mereka dalam berbuat dosa dan permusuhan. Berpartisipasi dalam Hari Raya mereka juga berarti Menyerupai orang-orang kafir. Islam telah melarang menyerupai orang-orang kafir. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk dalam golongan mereka." (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ahmad)

Umar bin Al-Khattab pernah menyatakan: "Jauhilah musuh-musuh Allah pada Hari Raya mereka." Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi)

Ibnul Qayyim -Rahimahullah-- menyatakan: "Kaum muslimin tidak boleh menghadiri perayaan Hari-hari Raya kaum musyrikin menurut kesepakatan para ulama yang berhak memberikan fatwa. Para ulama fikih dari madzhab yang empat sudah menegaskan hal itu dalam buku-buku mereka. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Umar bin Al-Khattab Radhiallahu 'anhu bahwa beliau pernah berkata: "Janganlah menemui orang-orang musyrik di gereja-gereja mereka pada Hari Raya mereka. Karena kemurkaan Allah sedang turun di antara mereka." Umar juga pernah berkata: "Jauhilah musuh-musuh Allah itu pada Hari Raya mereka." Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang bagus dari Abdullah bin Amru Radhiallahu 'anhuma beliau pernah berkata: "Barangsiapa lewat di negeri non Arab, lalu mereka sedang merayakan Hari Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu ia meniru mereka hingga mati, maka demikianlah ia dibangkitkan bersama mereka di Hari Kiamat nanti." (Lihat Ahkaamu Ahlidz Dzimmah I : 723-724).

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah -Rahimahullah-- menyatakan dalam bukunya yang agung Iqtidha-ush Shirathil Mustaqiem Mukhalafata Ash-haabil Jahiem: "Adapun apabila seorang muslimin menjual kepada mereka pada Hari-hari Raya mereka segala yang mereka gunakan pada Hari Raya tersebut, berupa makanan, pakaian, minyak wangi dan lain-lain, atau menghadiahkannya kepada mereka, maka itu termasuk menolong mereka mengadakan Hari Raya mereka yang diharamkan. Dasarnya satu kaidah: tidak boleh menjual anggur atau jus kepada orang kafir yang jelas digunakan untuk membuat minuman keras. Juga tidak boleh menjual senjata kepada mereka bila digunakan untuk memerangi kaum muslimin."
Kemudian beliau menukil dari Abdul Malik bin Habib dari kalangan ulama Malikiyyah: "Sudah jelas bahwa kaum muslimin tidak boleh menjual kepada orang-orang Nashrani sesuatu yang menjadi kebutuhan Hari Raya mereka, baik itu daging, lauk-pauk atau pakaian. Juga tidak boleh memberikan kendaraan kepada mereka, atau memberikan pertolongan untuk Hari Raya, karena yang demikian itu termasuk memuliakan kemusyrikan mereka dan menolong mereka dalam kekufuran mereka." (Al-Iqtidhaa cet. Darul Makrifah dengan tahqiq Al-Qafiyy hal. 229-231)

Semua perayaan tahunan dan pertemuan tahunan (yang dirayakan non Muslim, red) adalah Hari-hari Raya bid'ah dan ajaran bid'ah yang tidak pernah diturunkan oleh Allah penjelasan tentang hal itu.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berhati-hatilah terhadap amalan yang dibuat-buat. Setiap amalan yang dibuat-buat adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat." (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi serta yang lainnya)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Masing-masing kaum memiliki Hari Raya, dan ini adalah Hari Raya kita." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Rahimahullah-- mengulas persoalan tersebut secara panjang lebar dalam buku beliau Iqtidha-ush Shiratil Mustaqiem Mukhalafata Ash-habil Jahiem, berkaitan dengan kecaman terhadap berbagai Hari Raya bid'ah yang tidak ada asalnya dalam ajaran Islam yang lurus. Adapun kerusakan yang terkandung dalam acara-acara tersebut, tidak setiap orang, bahkan juga kebanyakan orang tidak dapat mengetahui kerusakan yang terkandung dalam bentuk bid'ah semacam itu. Apalagi bentuk bid'ah itu adalah bid'ah dalam ibadah syariat. Hanya kalangan cerdik pandai dari para ulama yang dapat mengetahui kerusakan yang terdapat di dalamnya.
Kewajiban umat manusia adalah mengikuti ajaran Kitabullah dan Sunnah Rasul, meskipun ia belum bisa mengetahui maslahat dan kerusakan yang terdapat di dalamnya. Dan bahwasanya orang yang membuat-buat satu amalan pada hari tertentu dalam bentuk shalat, puasa, membuat makanan, banyak-banyak melakukan infak dan sejenisnya, tentu akan diiringi oleh keyakinan hati. Karena ia pasti memiliki keyakinan bahwa hari itu lebih baik dari hari-hari lain. Karena kalau tidak ada keyakinan demikian dalam hatinya, atau dalam hati orang yang mengikutinya, tidak akan mungkin hati itu tergerak untuk mengkhususkan hari tertentu atau malam tertentu dengan ibadah tersebut. Mengutamakan sesuatu tanpa adanya keutamaan adalah tidak mungkin.
Kemudian Hari Raya (Ied) bisa menjadi nama untuk tempat perayaan, waktu perayaan, atau pertemuan pada perayaan tersebut. Ketiganya memunculkan beberapa bentuk bid'ah. Adapun yang berkaitan dengan waktu, ada tiga macam. Terkadang di dalamnya juga tercakup sebagian bentuk tempat dan aktivitas perayaan.
Pertama: Hari yang secara asal memang tidak dimuliakan oleh syariat, tidak pernah pula disebut-sebut oleh para ulama As-Salaf. Tidak ada hal yang terjadi yang menyebabkan hari itu dimuliakan.
Yang kedua: Hari di mana terjadi satu peristiwa sebagaimana terjadi pada hari yang lain, tanpa ada konsekuensi menjadikannya sebagai musim tertentu, para ulama As-Salaf juga tidak pernah memuliakan hari tersebut. Maka orang yang memuliakan hari itu, telah menyerupai umat Nashrani yang menjadikan hari-hari terjadinya beberapa peristiwa terhadap Nabi Isa sebagai Hari Raya. Bisa juga mereka menyerupai orang-orang Yahudi. Sesungguhnya Hari Raya itu adalah syariat yang ditetapkan oleh Allah untuk diikuti. Kalau tidak, maka akan menjadi bid'ah yang diada-adakan dalam agama ini.
Demikian juga banyak bid'ah yang dilakukan masyarakat yang meniru-niru perbuatan umat Nashrani terhadap hari kelahiran Nabi Isa -'Alaihissalam-- , bisa jadi untuk menunjukkan kecintaan terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan memuliakan beliau. Perbuatan semacam itu tidak pernah dilakukan oleh generasi As-Salaf, meskipun yang mengharuskannya (bila memang boleh) sudah ada, dan tidak ada hal yang menghalangi.
Yang ketiga: Hari-hari di mana dilaksanakan banyak syariat, seperti hari Asyura, hari Arafah, dua Hari Raya dan lain-lain. Kemudian sebagian Ahli Bid'ah membuat-buat ibadah pada hari itu dengan keyakinan bahwa itu merupakan keutamaan, padahal itu perbuatan munkar yang dilarang. Seperti orang-orang Syi'ah Rafidhah yang menghaus-hauskan diri dan bersedih-sedih pada hari Asyura' dan lain-lain. Semua itu termasuk perbuatan bid'ah yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, tidak pula oleh para generasi As-Salaf atau Ahli Bait Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun mengadakan pertemuan rutin yang berlangsung secara terus menerus setiap minggu, setiap bulan atau setiap tahun selain pertemuan-pertemuan yang disyariatkan, itu meniru pertemuan rutin dalam shalat lima waktu, Jumat, Ied dan Haji. Yang demikian itu termasuk bid'ah yang dibuat-buat.
Dasarnya adalah bahwa seluruh ibadah-ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan secara rutin sehingga menjadi sunnah tersendiri dan memiliki waktu pelaksanaan tersendiri kesemuanya telah ditetapkan oleh Allah. Semua itu sudah cukup menjadi syariat bagi hamba-hamba-Nya. Kalau ada semacam pertemuan yang dibuat-buat sebagai tambahan dari pertemuan-pertemuan tersebut dan dijadikan sebagai kebiasaan, berarti itu upaya menyaingi syariat dan ketetapan Allah. Perbuatan itu mengandung kerusakan yang telah disinggung sebelumnya. Lain halnya dengan bentuk bid'ah yang dilakukan seseorang sendirian, atau satu kelompok tertentu sesekali saja."
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, seorang muslim tidak boleh berpartisipasi pada hari-hari yang dirayakan setiap tahun secara rutin, karena itu menyaingi Hari-hari Raya kaum muslimin sebagaimana telah kita jelaskan sebelumnya. Tetapi kalau dilakukan sekali saja, dimisalkan seorang muslim hadir di hari itu untuk memberikan penjelasan kepada kaum muslimin lainnya dan menyampaikan kebenaran kepada mereka, maka tidak apa-apa, insya Allah. Wallahu A'lam.

(Dikutip dari Masa-il wa Rasaa-il oleh Muhammad Al-Humud An-Najdi 31. Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Iftaa. Fatwa nomor 2540)

  Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=406

4 Sifat Seorang Da'i

Bismillah...
Berikut ini saya ringkaskan hasil ta'lim yang berlangsung tadi siang bersama Ustadz Isma'il Al Aluury hafizhohulloh. Ta'lim ini membahas tentang muqodimah kitab Al Ushul Ats Tsalatsah karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rohimahullohu. Matan dari muqodimah itu adalah sebagai berikut:

اعلم رحمك الله ـ أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل : الأولى : العلم وهو معرفة الله ومعرفة نبيه ومعرفة دين الإسلام بالأدلة . الثانية : العمل به الثالثة : الدعوة إليه الرابعة : الصبر على الأذى فيه والدليل قوله تعالى بسم الله الرحمن الرحيم (وَالْعَصْرِ) (العصر:1) (إِنَّ الْأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ) (العصر:2) (إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)(العصر:3) [ سورة العصر ] 

Artinya:
Ketahuilah, semoga Alloh merahmatimu.Bahwasanya wajib atas kita untuk mengetahui empat hal, yang pertama adalah Al Ilmu, yaitu mengenal Alloh, mengenal nabi-Nya, dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalil; yang kedua adalah beramal dengannya (Ilmu); yang ketiga berdakwah kepadanya, yang keempat adalah bersabar atas gangguan-gangguan yang ada di dalamnya.Dan dalilnya adalah firman Alloh Ta'ala: (Surat Al 'Ashr).

Keempat hal di atas adalah empat ciri yang wajib dimiliki oleh seorang da'i sehingga dia pantas untuk diikuti, ditaati, dan diambil faedah darinya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Al Imam Ibnul Qoyyim al Jauziyah dalam kitab Zadul Ma'ad. 
Seorang da'i harus memiliki ilmu yang cukup untuk bisa berdakwah, mengajak manusia ke jalan Alloh. Namun, ilmu saja tidaklah cukup. Dia harus mengamalkan ilmu yang telah dimilikinya. Kata seorang salaf, seorang disebut alim jika memiliki ilmu dan beramal dengan ilmu tersebut. Kemudian seorang da'i juga harus mendakwahkan ilmu yang dimilikinya kepada manusia. Dan dakwah itu tidak harus berupa pengkajian kitab-kitab di depan majelis. Dakwah dapat dilakukan ketika sedang duduk-duduk bersama teman, atau ketika sedang makan bersama, sedang berolahraga, atau pada kesempatan-kesempatan lainnya. Dan berdakwah pun harus dilakukan dengan penuh hikmah. Apa itu hikmah? Hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dakwah hukum asalnya adalah lembut, tetapi jika dibutuhkan dakwah itu bisa keras dan tegas. Tentu saja hal ini tergantung pada siapa orang yang sedang dihadapi ketika berdakwah. Dan berdakwah pun tidak melulu berkesan menggurui. Kita bisa berdakwah kepada teman kita dengan cara yang santai, yang penting pesan kita tersampaikan. Dan perkara terakhir yang dimiliki seorang da'i adalah sabar terhadap segala cobaan yang merintangi dakwah mereka. Dakwah bukanlah pekerjaan yang remeh, yang santai, yang enak. Dalam dakwah, sering muncul rintangan-rintangan ataupun gangguan-gangguan. Dan ini adalah sunatulloh bagi siapa saja yang hendak berdakwah kepada jalan Alloh, pasti selalu ada rintangan, mulai dari zaman Nabi Nuh 'alaihissalam, Nabi Musa 'alaihissalam, Rosululloh Sholallohu'alaihi wasallam, hingga ke zaman sekarang ini. Dan semua gangguan ini harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan selalu mengharapkan pertolongan kepada Alloh Ta'ala.
Dan tambahan lagi, ketika kita ingin berdakwah ke tengah masyarakat, yang dibutuhkan oleh mereka itu adalah amalan-amalan. Kebanyakan mereka tidak terlalu mementingkan dalil yang mendasarinya. Oleh karena itu, jika menghadapi masyarakat yang seperti ini, seorang da'i harus menonjolkan amalannya terlebih dahulu, seperti amalan ibadah, akhlak, dan mu'amalah. Namun, semua ini tidak boleh melupakan ilmu yang merupakan landasan dari suatu amalan. 

December 14, 2010

Keutamaan Puasa Asyura Dibarengi Hari Lainnya

Penulis : Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al Ifta

Sebuah hadits Abu Qatadah Radiyyallahu Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Sallallahu alaihi Sallam bersabda : "Aku berdo’a pada Allah bahwa puasa pada hari Asyura dapat menebus dosa tahun yang lalu." Riwayat Imam Muslim, Al-Jami'-Us-Sahih II/2602.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura, maka beliau menjawab: "Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu." (HR. Muslim (1162), Ahmad 5/296, 297).

Ibnu Abbas menyatakan : "Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaannya selain hari ini (Asyura') dan tidak pada suatu bulan selain bulan ini (maksudnya: Ramadhan)." (HR. al-Bukhari (2006), Muslim (1132)).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah yang bernama Muharram. (HR. Muslim,1163).

Juga, "Abu Hurairah Radiyallahu Anhu meriwayatkan Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam bersabda : " Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharam, sedang salat yang paling utama sesudah salat fardlu adalah salat malam." HR Muslim II/2611.

Dalam hadits disebutkan bahwa para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Wahai Rasulullah! sesungguhnya Asyura' itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan." (HR. Muslim (1134) dari Ibnu Abbas).

Yang dianjurkan bagi muslimin di hari Asyura.

Tanya : Apakah wajib atas muslim untuk berpuasa di hari Asyura ( hari kesepuluh dari bulan Muharram), dan apakah Zakat Fitri wajib (pada hari itu) ?

Jawab : Telah disyariatkan untuk muslim untuk berpuasa pada hari Asyura (sebelumnya), karena telah diwajibkan puasa di hari Asyura oleh Nabi Salallaahu ` Alayhi wa Sallam. Akan tetapi, disaat (puasa Ramadhan) diwajibkan, maka bagi barangsiapa yang ingin berpuasa ('Asyura) silakan berpuasa dan barangsiapa yang tidak ingin menyukai maka tidak mengapa. Dan padanya (hari Asyura) tidak ada kewajiban Zakat Al-Fitr (untuk dibayar) pada hari Asyura, sebagaimana ditetapkan (zakat fitrah tersebut) atas `Ied al-Fitr selepas bulan Ramadhan.

Dan kepada Allahlah seluruh pangkal kesuksesan, dan semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Muhammad Nabi kita (Salallaahu `Alayhi wa Sallam) dan keluarganya serta sahabatnya.

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Saudi Arabia, Dewan Tetap Arab Saudi untuk riset-riset Ilmiyah dan Fatwa.

Ketua : Syaikh ' Abdul ' Aziz ibn Abdullah ibn Baz
Wakil Ketua : Syaikh ' Abdur-Razzaq ' Afifi
Anggota: Syaikh ' Abdullaah Ibn Ghudayyaan

Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Saudi Arabia, Dewan Tetap Arab Saudi untuk riset-riset Ilmiyah dan Fatwa, Jilid 10 hal 400, No.10962.

(Dinukil dari URL : http://www.fatwa-online.com/fataawa/worship/fasting/fas009/0000405_1.htm).

Tanya : Apakah diizinkan untuk berpuasa ' Asyura sehari saja (tgl 10 Muharam saja, red) ?

Jawab : Diperbolehkan untuk puasa hari Asyura. (hari kesepuluh Muharram) satu hari saja, akan tetapi hal itu menjadi lebih baik untuk puasa hari sebelumnya atau hari setelahnya juga dan ini adalah Sunnah yang diajarkan Nabi (Salallaahu `Alaihi wa Sallam) yang bersabda : “Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan." (hari Muharam), (Diriwayatkan oleh Imam Muslim (1134) dari Ibnu Abbas, Imam Ahmad, Ibn Majah, Ibn Abi Syaibah, At-Tahawi, Al-Baihaqi dan Al-Baghawi]. Ibn ' Abbas ( radliyallaahu ' anhumaa) berkata : (bersama dengan hari yang kesepuluh (bulan Muharram).

("Berpuasalah pada hari Asyura' dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya." (Fathul Bari, 4/245), red)

Dan kepada Allahlah seluruh pangkal kesuksesan, dan semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Muhammad Nabi kita (Salallaahu `Alaihi wa Sallam) dan keluarganya serta sahabatnya.

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Saudi Arabia, Dewan Tetap Arab Saudi untuk riset-riset Ilmiyah dan Fatwa.

Ketua : Syaikh ' Abdul ' Aziz ibn Abdullah ibn Baz
Wakil Ketua : Syaikh ' Abdur-Razzaq ' Afifi
Anggota: Syaikh ' Abdullaah Ibn Ghudayyaan

(Dikutip dari terjemah Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Saudi Arabia, Dewan Tetap Arab Saudi untuk riset-riset Ilmiyah dan Fatwa, Jilid 10 hal 401, No.13700. http://www.fatwa-online.com/fataawa/worship/fasting/fas009/0000405_2.htm)

Sumber: salafy.or.id

December 12, 2010

Ketika Virus-Virus Futur Menyerang

Sebagai seorang muslim, kita perlu mengetahui bahwa yang bisa menyelamatkan kita di kehidupan akhirat kita hanya dua hal, yaitu aqidah shohihah dan amal sholih. Yang perlu kita lakukan di dunia ini adalah hanya selalu istiqomah di atas kedua hal tersebut. Namun, ada kalanya ketika kita sedang berusaha istiqomah, kita malah berbelok dari jalur keistiqomahan tersebut. Kita mundur dari apa yang kita pertahankan tersebut.Keadaan seperti ini dalam Islam diistilahkan dengan futur.
Berikut ini saya ringkaskan hasil ta'lim kemarin sore bersama Al Ustadz Abu Hamzah hafidhohullohu, mengenai masalah futur ini.

Definisi Futur
Futur secara bahasa bisa diartikan terputus setelah terus menerus, pasif setelah aktir, kemunduran, dan kemalasan. Secara istilah artinya kemunduran kita dalam menjalankan perintah-perintah agama.

Penyebab Futur
1. Berlebih-lebihan dalam menjalankan perintah agama, hingga tidak memberikan kesempatan kepada tubuh untuk beristirahat, dan tidak memberikan hak-haknya. Hal ini akan menyebabkan kebosanan hingga akhirnya malah akan meninggalkan ibadah tersebut. Rosululloh sholallohu 'alaihi wasallam melarang umatnya untuk berlebih-lebihan dalam menjalankan ibadah.
2. Berlebihan dalam mengkonsumsi hal mubah. Pada bagian ini, ustadz menerangkan contohnya adalah makan. Ketika kita berlebihan dalam makan, tubuh kita akan kekenyangan dan akan menyebabkan malas beribadah. Mungkin bisa juga tidur dijadikan sebagai contoh lain.
3. Senang hidup menyendiri, dan menghindari berkumpul dengan orang lain, terutama orang-orang sholih. Ketika orang suka hidup menyendiri, tidak ada orang lain yang bisa dijadikan cermin, yang bisa dijadikan cambuk ketika imannya sedang down. Selain itu, syaiton selalu bersama orang yang sendirian. Jika ada teman, ketika amalan kita down, kita melihat kepada teman kita yang masih semangat, maka kita akan tercambuk untuk semangat kembali. Selain itu, ketika ada teman, kita bisa saling menasihati.
4. Kurangnya mengingat kematian dan akhirat. Kita disibukkan dengan aktivitas duniawi, seperti bekerja, kuliah, dll. Hal ini akan menyebabkan kita lalai terhadap ibadah kita. Jika kita mengingat kematian, mengingat bahwa kita akan kembali ke tanah, kemudian akan ada hari perhitungan dan pembalasan, maka kita akan merasa takut akan hal itu dan akan semangat lagi untuk melaksanakan ibadah. Oleh karena itu, ustadz menyarankan agar kita sekali-kali membaca buku tentang kematian, tentang hari kiamat, di sela-sela aktivitas kita sehari-hari.
5. Terlalu banyak melakukan hal yang sia-sia. Ini juga akan menyebabkan kemunduran kita dalam beribadah.
6. Adanya makanan yang bersifat haram dan syubhat dalam tubuh kita. Makanan haram kita tahu, sedangkan makanan syubhat adalah makanan yang tidak jelas halal atau haram.

Apa Solusinya?
Solusinya tentu saja adalah lawan dari penyebab-penyebab itu. Kita harus senantiasa memperhatikan hak-hak tubuh kita agar tidak capek, kita tidak boleh berlebihan dalam hal-hal mubah, kita harus berkumpul bersama orang-orang sholih, harus sering mengingat kematian dan akhirat, menghindari perkara yang sia-sia, dan menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuh kita.
Saya juga ingin memberikan solusi tambahan yang saya dapat dari pengalaman hidup sehari-hari saya. Pertama adalah ketika kita sedang lemah, paksakan saja diri kita untuk melaksanakan ibadah dan sebisa mungkin kita hindari maksiat, sebab iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Ketika kita memaksakan untuk beramal dan menghindari maksiat, iman kita akan bertambah, dan efeknya kita akan lebih semangat lagi dalam melakukan ibadah dan menjauhi maksiat, dan begitu seterusnya, seperti efek domino. Sedangkan solusi yang kedua, dikhususkan bagi para pemuda yang belum menikah, yaitu selalu mengingat surat AnNuur ayat 26: "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik". Jika kita ingin mendapatkan pasangan yang sholih/sholihah, buatlah diri kita menjadi sholih/sholihah dulu. Jika seorang pemuda mengingat ini, insyaAlloh ia akan semangat lagi ibadahnya..
Selamat mengaplikasikan, semoga bermanfaat.

June 10, 2010

Zuhud untuk Orang Kaya

Zuhud sering diartikan dengan sikap lebih mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Artinya, orang yang zuhud akan mencurahkan sebagian besar perhatiannya untuk urusan akhirat, yaitu dengan ibadah dan taqorub kepada Alloh, sedangkan kehidupan dunia hanya secukupnya untuk menunjang ibadah. Oleh karena itu, sering orang membayangkan kalau orang zuhud (zahid) itu miskin, tidak punya harta, karena pekerjaannya tiap hari hanyalah ibadah. Kemudian timbul pertanyaan, bisakah orang yang kaya itu zuhud? Ustadz Mundzir hafidzohulloh pernah menerangkan hal ini dengan mengikut perkataan Imam Ahmad rohimahulloh. Beliau menceritakan bahwa Imam Ahmad rohimahulloh pernah ditanya tentang hal ini, dan beliau menjawab, "orang kaya bisa zuhud jika dia tidak menjadi senang ketika hartanya bertambah dan tidak sedih ketika hartanya berkurang". Jadi dia tidak memikirkan apa yang terjadi dengan hartanya, meskipun tentu saja dia tetap bersyukur dengan pemberian Alloh itu. Kemudian Ustadz juga memberi contoh ulama-ulama besar yang menjadi pedagang/pengusaha sukses, seperti Utsman bin Affan, Abdurrohman bin Auf, Imam Abdulloh ibnu Mubarok, dan Imam Malik bin Anas. Jadi, mau kaya, mau miskin, keadaan ini tidak akan menghalangi orang yang beriman untuk tetap zuhud dan mengutamakan apa yang akan dijumpainya kelak di akhirat kelak.

June 03, 2010

What They Think is Beyond What People Think

Kemarin saya melihat siaran berita di salah satu stasiun TV yang menayangkan komunikasi antara para relawan Gaza yang telah diselamatkan dan ada di Amman, Yordania, dengan keluarga mereka di tanah air. Ada satu hal menarik yang saya dapatkan ketika mengamati pembicaraan antara pembaca berita dengan sang relawan ataupun dengan keluarganya.

June 02, 2010

Prihatin Atas Serangan Orang Yahudi, Prihatin Juga dengan Tanggapan Sebagian Kaum Muslimin Terhadapnya

Beberapa hari terakhir ini, media cetak maupun elektronik tidak kosong dari berita mengenai penyerangan orang yahudi (Israel) terhadap kapal pengangkut bantuan kemanusiaan yang akan menuju jalur Gaza. Sebagai seorang muslim, tentu saja saya sangat prihatin dengan kejadian ini karena kapal itu sendiri ditujukan bagi saudara-saudara saya sesama muslim yang ada di Gaza. Keprihatinan juga saya tujukan bagi para relawan yang tewas tertembak  oleh tentara yahudi la'natullohi 'alaihi yang setahu saya sebagian besar relawan yang tewas itu adalah muslim dari Turki. Selain prihatin, saya pun mengecam, mengutuk, dan melaknat tindakan biadab yang dilakukan orang-orang yahudi itu.

May 31, 2010

Ketika Budi Tak Berbalas

Ketika kita membantu atau melakukan sesuatu hal baik untuk orang lain (misal dengan memberi sesuatu, meminjamkan uang, dan hal-hal baik lainnya) kadang-kadang kita secara implisit berharap agar perbuatan kita ini suatu saat akan kembali kepada kita. Tentu kita akan sangat gembira jika kita mendapat balasan yang baik tidak lama setelah kita melakukan kebaikan bagi orang lain. Namun bagaimana kiranya jika kebaikan kita ini ternyata tidak langsung dibalas, bahkan cuma dianggap angin lalu bagi orang yang kita tolong?? Tentu hal ini akan membuat kita kecewa, sedih, ataupun perasaan-perasaan tidak mengenakkan lainnya.

May 21, 2010

Euforia Kemenangan Seorang Muslimah di Ajang Miss USA

Sekitar tiga hari yang lalu, ramai diberitakan di media televisi dalam negeri mengenai kemenangan seorang warga Amerika keturunan Lebanon yang beragama Islam dalam ajang Miss USA. Kejadian ini dikatakan sebagai sejarah baru, dan juga untuk menunjukkan bahwa orang Islam itu cinta damai. Kemudian diberitakan juga tentang latar belakang si perempuan itu, bagaimana ia datang ke Amerika, kemudian kehidupan sehari-harinya, juga mengenai keluarganya yang sangat toleran. Dari sini timbul kesan bahwa kejadian ini merupakan sesuatu yang patut untuk dibanggakan (dan saya yakin pasti ada sebagian orang yang tidak berilmu di luar sana yang ikut-ikutan bangga).

May 15, 2010

Menyikapi Manusia Yang Suka Bikin Jengkel

Seringkali dalam hidup ini kita berhadapan dengan manusia jenis ini, yang menyebabkan kita menjadi emosi dan tindakan kita menjadi tidak terkendali. Mungkin orang itu hanya bercanda tanpa bermaksud tidak baik. Namun, dia tidak mengukur bahwa tindakannya ternyata dapat membuat orang lain marah (hal ini sering dialami oleh penulis).
Kita pastinya telah paham bahwa marah itu termasuk tindakan yang tidak baik (dikecualikan marah karena Alloh, karena itu termasuk sebagian dari iman). Oleh karena itu, kita perlu mengontrolnya. Tapi bagaimana caranya?
Dari pengalaman pribadi, beberapa buku yang pernah saya baca, dan beberapa tausiyah yang pernah saya dengarkan, kira-kira hal berikut bisa kita lakukan:

April 25, 2010

Indahnya Akhlak Mulia

Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan mengunjungi masjid Salman guna melakukan observasi dan wawancara untuk keperluan tugas kuliah rekayasa lingkungan. Selama observasi tersebut, saya dan tim ditemani oleh salah seorang pegawai masjid, sebut saja Kang HD. Beliau ini begitu sabar untuk diwawancara oleh kami, menemani kami melakukan observasi tentang instalasi daur ulang air wudhu di salman(sampai naik-naik ke atap tempat wudhu yang ada di Salman), hingga mencarikan data-data lain yang kami butuhkan untuk membuat makalah.
observasi instalasi daur ulang air wudhu Salman

Di sela-sela kegiatan tersebut (pas mau selesai), salah satu teman saya nyeletuk,"Waduh kang, maaf nih, kami jadi ngeropotin gini". Si Akang malah menjawab,"Orang kerja di Salman ini kan untuk mengabdi buat masyarakat, jadi kudu mau direpotin. Kalau gak mau direpotin ya gak usah kerja di sini, hehehe". Jawaban yang cukup simpel, tapi bagiku sangat bermakna. Aku berpikir, kata-kata seperti itu bisa keluar dari pegawai Salman yang notabene bukan pejabat. Bisa dibayangkan bagaimana pembinaan akhlak yang dilakukan di sana. Bandingkan dengan orang-orang dengan slogan "pengabdian.. pengabdian..", tapi slogan itu cuma jadi slogan belaka, tanpa ada realisasi.
Dan singkat cerita, di akhir observasi itu, kami pun bermaksud untuk memberikan sedikit bingkisan sebagai tanda terima kasih buat Akang HD yang udah bersedia "direpotin" oleh kami. Namun, beliau malah menolak, dengan betul-betul menolak (kan biasanya ada orang yang klo dikasih tuh awalnya bilang "gak usah" dua kali, tapi yang ketiganya bilang terima kasih sambil ngambil tuh bingkisan). Ini juga merupakan bagian dari akhlak mulia, yaitu menolak pemberian dari orang lain di luar gaji yang berhak ia peroleh....
Akhlak mulia memang indah. Barang siapa berhias dengan akhlak mulia, sungguh dia telah memakai perhiasan yang paling indah di dunia ini.

April 21, 2010

Pidato Pelantikan Abu Bakar Ash Shiddiq Sebagai Khalifah

Selepas dibai'at, Abu Bakar rodhiyallohu'anhu mulai berpidato setelah memuji Alloh Pemilik segala pujian, " Amma ba'du, para hadirin sekalian, sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pemimpin atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya Insya Alloh. Sebaliknya siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya.Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Alloh kecuali Alloh akan timpakan kepada mereka kehinaan, dan tidaklah suatu kekejian tersebar di tengah suatu kaum kecuali adzab Alloh akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut. Patuhilah aku selama aku mematuhi Alloh dan RosulNya. Namun, jika aku tidak mematuhi keduanya maka tidak ada kewajiban taat atas kalian terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan sholat, semoga Alloh merahmati kalian".(Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah; Ibnu Katsir, Al Bidayah Wan Nihayah)

Alangkah indahnya kata-kata yang keluar dari mulut beliau yang mulia. Kita sangatlah merindukan sosok pemimpin seperti beliau di masa sekarang ini. Sungguh berbeda keadaannya dengan  pemimpin yang ada sekarang.Coba bandingkan pidato pelantikan yang disampaikan oleh pemimpin-pemimpin yang ada di masa sekarang ini dengan pidato beliau di atas. Jauh sekali perbandingannya..